PETUALANGAN

Pencinta Alam dan Petualangan Alam Bebas

Petualangan sering didentikkan dengan pencinta alam, walau pun sebenarnya kedua hal tersebut pada dasarnya berbeda, tetapi memang mempunyai ikatan yang sangat erat. Keterkaitan itu adalah dikarenakan dari sejarahnya, kegiatan petualangan merupakan salah satu bentuk kegiatan dari pencinta alam. lanjut baca ya….

Untuk mencintai alamnya, pencinta alam berusaha mengenal alam dan menyatu dengan alam. Salah satu cara yang mereka lakukan untuk tujuan tersebut adalah dengan berpetualang. Jadi apakah benar bahwa seorang petualang itu pasti juga seorang pencinta alam? Itu relatif….karena seseorang yang pada awalnya hanya ingin berpetualang akhirnya menemukan kecintaan kepada alam dalam petualangannya itu.

Dalam petualangannya, segala sisi penjuru dunia telah dijelajahi manusia, menapaki puncak-puncak tertinggi dunia, menyusuri kedalaman perut bumi, menyelami dalamnya palung lautan, dan bermain-main dengan resiko menghadapi ganasnya jeram dan tingginya tebing. “Hidup adalah soal keberanian. Keberanian menghadapi tanda tanya tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa mengelak. Terimalah dan Hadapilah”. Begitulah kata-kata dari Soe Hok Gie, seorangyang telah mencetuskan kata ‘Pencinta Alam’, pada dekade tahun 60-an.

Tentu kita setuju dengan tulisan pada sebuah plakat di gunung Lawu yang menyebutkan,”Jangan Menjadikan Alam Tantangan”. Semakin kita merasa bahwa alam adalah sebuah tantangan, maka semakin alam menjadi musuh yang harus ditaklukkan. Selain itu tidak adil pula jika kita hanya mengeksploitisir keindahan alam untuk kepuasan kita sendiri, kemudian setelah puas ditinggalkan begitu saja.

Maka apapun bentuk dan motivasinya, sebagai manusia yang bertanggung jawab maka dalam berpetualang tentunya adalah bagaimana kita memposisikan diri kita untuk melihat diri kita sebagai bagian dari alam, sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah Petualangan Alam
Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris.
John Beaumont, sebagai orang yang pertama menuruni sumuran gua (potholing) pada tahun 1674.
Pada akhir abad 19 seorang pramuka bernama John Macgregor mengembangkan kendaraan untuk rekreasi. Selanjutnya orang berfikir bagaimana cara agar dapat mengarungi sungai dengan dengan kendaraan yang dapat menampung orang banyak dan perbekalan.

Sejarah Singkat Pencinta Alam Indonesia

Kata “Pencinta Alam” hanya ada di Indonesia. Di luar negeri mungkin lebih dikenal dengan istilah aktivis lingkungan. Konsep Pencinta Alam dicetuskan oleh Soe Hok Gie pada tahun 1964. Gie sendiri meninggal pada tahun 1969 karena menghirup gas beracun Gunung Semeru. Gerakan “Pencinta Alam” awalnya adalah pergerakan perlawanan yang murni kultur kebebasan sipil atas invasi militer dengan doktrin militerisme-patriotik. Perlawanan ini dilakukan dengan mengambil cara berpetualang dengan alasannya yaitu :

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi (kemunafikan) dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Soe Hok Gie – Catatan Seorang Demonstran)

Era pencinta alam sesudah meninggalnya Soe Hok Gie ditandai dengan adanya ekspedisi besar-besaran, dan era berikutnya ditandai dengan Era 1969-1974, merupakan era antara masa kematian Gie dan masa muncul munculnya ‘Kode Etik Pencinta Alam’ (KEPAI). Era ini menandai munculnya tatanan baru dalam dunia kepencinta-alaman, dengan diisahkannya KEPAI di Gladian IV Ujungpandang, 24 Januari 1974. Ketika itu di barat juga sudah mengenal suatu ‘Etika Lingkungan Hidup Universal’ yang disepakati pada 1972. Era ini menandakan adanya suatu babak monumental dalam aktivitas kepencintaalaman Indonesia dan perhatian pada lingkungan hidup di negara-negara industri. Lima tahun setelah kematian Gie, telah memunculkan suatu kesadaran untuk menjadikan Pencinta Alam sebagai aktivitas yang teo-filosofis, beretika, cerdas, manusiawi/humanis, pro-ekologis, patriotisme dan anti-rasial.

Prinsip Dasar Petualangan Alam

Dalam Etika ‘Etika Lingkungan Hidup Universal’ Ada 3 etika yang merupakan prinsip dasar dalam kegiatan petualangan yaitu :

Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill noting but time.

Dalam Kode Etik Pencinta Alam Indosnesia, disebutkan :

Memelihara alam beserta isinya………….dst

Dalam pelaksanaan kegiatan petualangan terdapat etika dan prinsip dasar yang sudah disepakati bersama. Etika dan prinsip dasar tersebut muncul sebagai rasa tanggung jawab kepada alam. Selain didukung dengan perlengkapan dan peralatan yang memadai, juga dalam petualangan mutlak diperlukan kemampuan yang mencukupi. Kemampuan itu adalah kemampuan teknis yang yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan. Sebagai contoh, pendaki harus memahami ritme berjalan saat melakukan pendakian, menjaga keseimbangan pada medan yang curan dan terjal sambil membawa beban yang berat serta memahami kelebihan dan kekurangan dari perlengkapan dan peralatan yang dibawa serta paham cara penggunaannya.

Lalu, kemampuan kebugaran yang mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam. Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini menyangkut pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi/kemauan, percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.

Seorang pendaki seharusnya dapat memahami keadaan dirinya secara fisik dan mental sehingga ia dapat melakukan kontrol diri selama melakukan pendakian, apalagi jika dilakukan dalam suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri sebagai anggota kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.

Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap iklim dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus memahami pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh dirinya terhadap kondisi lingkungan yang ia datangi.

Keempat aspek kemampuan tersebut harus dimiliki seorang pendaki sebelum ia melakukan pendakian. Sebab yang akan dihadapi adalah tidak hanya sebuah pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari dekat, tetapi juga sebuah risiko yang amat tinggi, sebuah bahaya yang dapat mengancam keselamatannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s